Ayah, aku tahu engkau selama ini telah bekerja keras demi anakmu ini. Engkau bekerja membanting tulang agar aku bisa sekolah seperti anak-anak yang lain. Bahkan engkau telah berjuang agar anakmu yang jarang berterima kasih ini selalu berangkat sekolah dengan semangat. Engkau cukupi semua kebutuhan sekolahku, bahkan semua permintaanku ini itu engkau sering turuti.
Entah kenapa dulu aku jarang berfikir bahkan mungkin tak pernah memikirkan, apakah engkau saat itu mempunyai uang dan biaya demi menuruti semua keinginanku. Kini aku sadar, ternyata mencari uang itu memang butuh kerja keras. Maafkan aku ayah, anakmu ini memang dulu tak tahu diri dan sering menyusahkanmu
Ibu ayah, aku sadar engkau selama ini begitu sayang padaku. Begitu banyak perhatian yang telah kau berikan. Terutama dalam mendidik anakmu yang bandel ini. Kau sering menemaniku belajar saat aku kecil dulu. Mengajariku mengenal huruf A, B dan C dengan sabar. Atau selalu senantiasa dengan penuh senyum mengajariku angka-angka dengan menekuk jari-jariku. Hingga sampai masa SD, SMP bahkan sampai SMA, engkau pun masih begitu perhatian dengan anakmu ini.
Engkau sering mengingatkanku dengan sekolahku, hingga engkau sering kali aku anggap sebagai makhluk paling rewel di dunia ini karena seringnya menasehatiku. Ibu, maafkan aku yang dulu sering mengadu padamu saat ayah tak mau menuruti kemauanku. Berharap engkau mau merayu ayah tuk berjuang demi aku. Padahal sebenarnya ayah dan engkau pun selama ini telah berjuang dengan sangat keras demi sekolahku.
Hingga akhirnya aku tahu, ternyata kau sering menangis karena merasa tak bisa memenuhi keinginanku. Sungguh aku pun rasanya ingin menangis ketika baru menyadari ini sekarang.
TERIMAKASIH UNTUK SEMUANYA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar